Restoran Legendaris di Kawasan Prostitusi Amsterdam/Legendary restaurant in Amsterdam Prostitution Zone

KOMPAS.com – Amsterdam, ibu kota Belanda merupakan kota dengan beragam daya tarik, mulai dari yang bersifat kuno sampai modern. Salah satu obyek yang kadang lebih terkenal dari Museum Van Gogh ataupun Tour Kanal Rondvart di Amsterdam adalah Red Light District, sebuah kawasan prostitusi.

Red Light District sudah menjadi daya tarik wisatawan mancanegara sejak puluhan tahun silam. Di kawasan ini pula terdapat China Town Amsterdam dan di satu jalannya yaitu jalan Zeedijk,  berdiri Kuil Budha terbesar di Eropa bernama Fo Guang Shan He Hua. Kuil ini terlihat menonjol di antara bangunan sekitarnya. Tepat di depan kuil terdapat restoran China yang terbaik dan terlaris di Amsterdam yaitu Restoran Nam Kee China Town.

 

Restoran Nam Kee sudah berusia 30 tahun dan sejak puluhan tahun sudah dikenal baik di kalangan warga Amsterdam maupun dari kota-kota lain. Hal ini diketahui dari kesan-kesan tertulis pengunjungnya yang berasal dari Belanda dan negara lain sejak beberapa tahun yang lalu.

Semua tulisan menunjukkan apresiasi, pujian, dan rekomendasi kelezatan makanan yang berkualitas dan bercita rasa asli China. Di samping itu, pelayanan restoran ini cukup memuaskan karena penyajian makanan yang cepat dan harga makanan relatif terjangkau. Bahkan diakui beberapa pengunjung sebagai restoran China termurah di Amsterdam dan masih lebih murah jika dibandingkan dengan restoran China di kota lain.

Pada tahun 2011 restoran ini terpilih kembali untuk ketiga kalinya sebagai restoran China terbaik di Amsterdam (The Best Chinese Restaurant) dari Time Out Amsterdam Award. Sedangkan menurut surat kabar The New York Times, restoran ini merupakan “icon of the city” atau ikon Kota Amsterdam.

 

Pemilik restoran ini bernama Nam Chan, keturunan asli China yang sudah menjadi penduduk Belanda. Pada awal berdirinya di tahun 1981, restoran ini hanya menyediakan 16 kursi. Sampai saat ini restoran hanya menyajikan makanan bercita rasa asli China Cantonese. Sekarang Nam Chan sudah memiliki 3 restoran Nam Kee yang semuanya terletak di Amsterdam. Pertama berdiri di Zeedijk China Town, kedua di Nieuwmarkt, dan ketiga di Heinekenplein.

 

Restoran pertama yang berada di Zeedijk yaitu di kawasan Red Light District merupakan restoran yang paling terlaris dan terkenal sampai saat ini. Kepopuleran restoran ini didongkrak juga oleh pembuatan buku yang berjudul “The Oyster of Nam Kee” oleh Kees van Bijnum pada tahun 2000 yang dilanjutkan dengan pembuatan film drama layar lebar pada tahun 2002.

Makanan kerang saus kedelai (Oyster of Nam Kee) yang sangat terkenal di Restoran Nam Kee menginspirasi pembuatan buku dan film tersebut. Kepopulerannya terus dipublikasikan oleh berbagai media massa baik cetak dan elektronik. Serta, sudah menjadi buah bibir masyarakat Belanda dari masa ke masa.

 

Pemilik restoran pun sudah menerbitkan buku masak “The Oysters and Other Dishes” yang berisi resep-resep terbaik dan terpopuler dari restorannya. Restoran kedua dan ketiga lebih banyak diperuntukan untuk memenuhi kebutuhan pengunjung dari kalangan menengah ke atas atau keperluan korporasi karena berkapasitas lebih besar dan modern. Di samping itu, kedua restoran yang lebih besar juga melayani pesanan makanan katering.

 

Pengunjung Restoran Nam Kee di Zeedijk harus mengantre untuk bisa mendapatkan meja yang kosong saat jam-jam makan padat pengunjung, baik itu hari kerja maupun hari libur. Hal ini saya alami sendiri saat berkunjung pada musim dingin dan musim panas. Setiap tiba di depan restoran, baru di pintu masuk yang kebetulan berukuran kecil sudah mengantre lebih dari 5 orang. Walaupun cuaca dingin atau hujan dan tidak terlihat pengunjung yang mundur dari antrean. Pengunjung bisa terlebih dahulu memesan tempat duduk melalui telepon agar tidak perlu mengantre.

 

Restoran ini sejak dahulu mempertahankan interior bergaya China dengan furnitur yang sederhana dan ruang masak terletak juga di sisi depan samping pintu masuk. Ruangan restoran tidak terlalu luas. Sekarang mampu menampung kurang lebih 100 kursi. Sekilas terlihat kurang nyaman jika restoran sudah dipenuhi pengunjung karena ruangan terlihat semakin sempit.

 

Suasana restoran semakin menambah kuat nuansa asli China karena pelayan dan koki berasal dari etnis China, sebagaimana terlihat dari fisiknya dan tidak ada yang berpenampilan etnis barat ataupun keturunan Belanda. Sikap pelayanannya juga sangat kental dengan gaya dari negeri asalnya yang selalu berwajah serius dan hampir tidak pernah tersenyum namun mereka bekerja sangat cekatan serta cepat melayani permintaan pengunjung.

 

Komunikasi antar pelayan atau koki sering masih menggunakan bahasa China bahkan ada yang tidak bisa berbahasa Inggris ataupun bahasa Belanda. Kesan ini yang memperkuat keaslian restoran China sehingga meninggalkan kesan yang tidak terlupakan bagi pengunjung yang sebagian besar bukan berasal dari etnis China.

 

Selain rasa makanan yang tetap sama seperti dari tempat asalnya di China, juga suasana restoran memperkuat kesan original China di negeri orang. Tampaknya hal ini yang membuat restoran Nam Kee semakin populer dan laris manis sepanjang masa di negeri orang.

 

Sebagian besar tamu restoran merupakan pengunjung setia atau langganan karena begitu tiba di restoran mereka langsung menyebutkan makanan yang dipesan tanpa perlu melihat buku menu. Seorang pengunjung setia yang tinggal di  Amersfoort, Rose Van der Haven menceritakan kesannya,

“Saya kalau datang ke sini selalu ingin mencoba beberapa jenis makanan tetapi saya sudah punya makanan favorit yaitu Wan Ton Soup yang bisa dimakan sendiri dan sup ini tidak ada tandingannya.”

Menurutnya jika datang ke restoran ini, sebaiknya menikmati beberapa macam menu karena semua makanan enak, namun disajikan dalam porsi besar. Dengan demikian, Rose menyarankan jika makan di restoran ini sebaiknya bersama dengan beberapa orang agar bisa memesan beberapa jenis makanan.

Di restoran ini makanan yang banyak disukai pengunjung adalah Kerang Saus Soya (Oyster Nam Kee), Bebek Peking Panggang  (Roasted Peking Duck), Ayam Asam Manis (Sweet and Sour Chicken), Babi Panggang (Roasted Pork), Wan Ton Goreng (semacam pangsit goreng), dan Soup Wan Ton. Termasuk juga beberapa makanan sayur serta seafood, nasi goreng dengan seafood (Nasi Yeung Chow), bakmi, bihun (Bihoen Singapore) dengan racikan bumbu asli resep tradisional China.

 

Restoran Nam Kee menyediakan kurang lebih 100 menu masakan dengan cita rasa asli China Cantonese. Wan Ton Soup sebagai makanan pembuka yang  menjadi favorit pengunjung seakan membuka napsu makan karena rasa kaldu yang pas dan 5 pangsit basah yang segar, bukan dari yang dibekukan di lemari es. Tambahan lagi isian daging bercita rasa tersendiri. Ada juga makanan pembuka lain seperti lumpia goreng kecil dan pangsit goreng (Fried Wan Ton) yang juga banyak dipesan pengunjung.

 

Lalu lanjutkan dengan makanan utama yang semuanya mempunyai rasa bumbu yang pas. Daging panggang baik dari bebek atau babi, dengan kulit renyah tetapi daging tetap empuk disiram kecap yang kental dan sangat gurih. Begitu pula masakan ayam dibungkus tepung yang renyah disiram saus yang segar, terasa asam manis di lidah.

 

Nikmatnya mencoba makanan laut berupa lobster berukuran besar dengan isi daging yang banyak serta kerang yang berukuran besar juga. Kedua bahan ini sudah dibumbui dan disiram saus khas China. Makanan seafood kerang yang paling terkenal adalah Oyster Nam Kee  yang dimasak sederhana dengan cara dikukus bersama bumbu kemudian disajikan dengan kecap.

 

Tentunya menu sayuran selalu menjadi pilihan pengunjung, seperti tumisan aneka sayur (Mix Vegetable with Bean Curd) yang rasanya hampir sama dengan yang biasa kita temui di restoran China berkualitas tinggi di Jakarta.

 

Tersedia juga menu nasi goreng yang kadang dipilih sebagai pengganti nasi putih. Ada pula masakan bakmi dan bihun yang juga banyak dipesan pengunjungnya. Minuman favorit pengunjung tidak lain adalah teh China yang disajikan dengan cawan kecil dan poci khas China. Teh dapat dinikmati secara gratis.

 

Kesempurnaan rasa di semua makanan membuat pengunjung ingin memesan semua makanan yang ada. Oleh karena itu pengunjung selalu berkeinginan untuk datang kembali ke restoran keluarga yang sudah dijalankan oleh dua generasi ini.

 

Kesuksesan restoran tradisional di negeri orang ini seyogyanya bisa menjadi inspirasi pengelola restoran Indonesia di Belanda. Di Amsterdam cukup banyak restoran Indonesia. Di antaranya Puspita, Raden Mas, Srikandi, dan Kantjil en de Tijger. Tetapi tampaknya belum ada yang sepopuler Restoran Nam Kee. Padahal peluang pasar cukup besar mengingat banyak warga Belanda yang mempunyai hubungan dengan Indonesia.

 

Pastinya kesuksesan Restoran Nam Kee tidak terlepas dari pengelolaan yang profesional dan tetap mempertahankan keaslian rasa dan suasana tradisional restoran khas China. Pemilik tahu betul keinginan dan kepuasan pelanggan serta  tetap memandang perlunya faktor promosi walaupun sudah menjadi ikon Amsterdam.

 

Mungkin juga faktor keberuntungan datang dari lokasi restoran yang berada tepat di depan tempat berdoa para warga Budha di kawasan wisata Amsterdam yang sangat strategis. Tahun 2011, Restoran Nam Kee berusia 30 tahun dan masih tetap menawarkan harga spesial bagi pengunjungnya sebagaimana bisa dilihat di situs web resminya. Tidak mustahil komentar seorang pengunjung asal Singapura bernama Lezah di tahun 2004 memang terbukti hingga saat ini, “Nam Kee is a Legend!”(Janine Helga Warokka)

 

http://travel.kompas.com/read/2011/11/08/16015051/Restoran.Legendaris.di.Kawasan.Prostitusi.Amsterdam

KOMPAS.com – Amsterdam, the Dutch capital is a city with a diverse appeal, ranging from the nature of ancient to modern. One of the objects that are sometimes more famous than Van Gogh Museum or Rondvart Canal Tour in Amsterdam is the Red Light District, an area of prostitution.Red Light District is the main attraction for foreign tourists since decades ago. In this area there is also China Town Amsterdam and in a way that is Zeedijk street, stands the largest Buddhist temple in Europe called the Fo Guang Shan He Hua. This temple stands out among the surrounding buildings. Right in front of the temple are the best Chinese restaurant in Amsterdam and selling the Nam Kee Restaurant China Town.

 

Restaurant Nam Kee is aged 30 years and since many years was well known among the citizens of Amsterdam and other cities. It is known from the written impressions of visitors who came from the Netherlands and other countries since many years ago.All writings show appreciation, praise, and recommendations of quality delicacies and authentic taste of China. In addition, the service is quite satisfactory because the restaurant serving fast food and food prices are relatively affordable. Even recognized some of the visitors as the cheapest Chinese restaurant in Amsterdam and still cheaper when compared to other Chinese restaurants in town.In 2011 this restaurant was re-elected for a third time as the best Chinese restaurant in Amsterdam(The Best Chinese Restaurant) from Amsterdam Time Out Award. Meanwhile, according to the newspaper The New York Times, this restaurant is an “icon of the city” or the icon City of Amsterdam.

 

This restaurant owner named Nam Chan, descendants of the original China is already a resident of the Netherlands. At its inception in 1981, this restaurant provides 16 seats only. Until now only restaurant serving authentic Chinese Cantonese flavor.

 

Now Chan Nam Nam already has threerestaurants which are all located Kee in Amsterdam. First established in Zeedijk China Town, Nieuwmarkt second, and third in Heinekenplein.The first restaurant was in the region Zeedijk Red Light District is the restaurant’s most famous and best selling to date. Also boosted the popularity of this restaurant by making a book called “The Oyster of Nam Kee” by Kees van Bijnum in 2000, followed by drama filming the big screen in 2002.Food shellfish soy sauce (Nam Kee Oyster of) a very famous Nam Kee Restaurant inspired the creation of the book and film. Its popularity continued to be published by various mass media both print and electronic. As well, has become a byword of Dutch society from time to time.The restaurant owner had already published a cook book “The Oysters and Other Dishes” which contains recipes from the best and most popular restaurants.

The second and third restaurant moreintended to meet the needs of visitors from the upper middle class or corporate purposes as larger capacity, and modern. In addition, the larger restaurant also serves food catering orders.Visitors Nam Kee Restaurant in Zeedijk should be able to get in line for an empty table when eating solid hours of visitors, both weekdays and holidays. This is my own experience during a visit in the winter and summer. Each arrived at the restaurant, just at the entrance of the small chance already lined up more than 5 people.

 

Although the cold weather or rain, and visitors who do not look back from the queue. Visitors can book seats in advance by telephone so do not need to queue.The restaurant is stylish interior since ancient China maintains with simple furniture and cooking chamber is also located on the front side of the entrance. Restaurant room is not too broad. Now able to accommodate approximately 100 seats. Brief look less comfortable if the restaurant was full of visitors since the room look more narrow.

 

The atmosphere of the restaurant adds a powerful feel of the original China as waiters and chefs are from ethnic Chinese, as seen from its physical appearance and no western or ethnic Dutch descent. Attitude of service is also very strong with the style of his native country who always faced serious and hardly ever smiles, but they work very nimble and quick to serve the demand of visitors.Communication between the waiter or chef often still use the Chinese language and some even do not speak English or Dutch. This reinforces the impression that the authenticity of Chinese restaurants that leave an unforgettable impression for visitors, mostly not from the ethnic Chinese.In addition to the food taste the same as from the place of origin in China, also reinforces the atmosphere of the original restaurant in the land of China.

 

This appears to make the restaurant Nam Kee increasingly popular and sold well in the land of all time.Most of the diners are loyal visitor or customer because once they arrive at the restaurant directly mention the food that was ordered without the need to look at the menu. A loyal visitor who lives in Amersfoort, Rose Van der Haven told his impression,”I always come here if you want to try some foods, but I already have a favorite food that is Wan Ton Soup can be eaten alone and this soup is unmatched.”He said if it comes to this restaurant, you should enjoy several kinds of menus for all the good food, but served in large portions. Thus, Rose suggests if you eat at this restaurant should be shared by several people to be able to order some food.In this restaurant the food is much favored visitor Shellfish Soya Sauce (Nam Kee Oyster), Peking Roast Duck (Peking Roasted Duck), Sweet & Sour Chicken (Sweet and Sour Chicken), Pork Roast (Roasted Pork), Fried Wan Ton (a kind of dumpling fried), and Wan Ton Soup. Including also some vegetable foods and seafood, fried rice with seafood (Rice Yeung Chow), noodles, vermicelli (Bihoen Singapore) with the original spice blend of traditional Chinese recipes.Nam Kee restaurant provides more than 100 dishes with the taste of authentic Cantonese China.Wan Ton Soup as an appetizer is a favorite of visitors seemed to open the appetite for the right flavor and broth 5 fresh dumplings wet, not frozen in the freezer. Additional another flavor of meat stuffing separately. There are also appetizers like tiny fried spring rolls and fried dumplings (Fried Wan Ton) who also ordered a lot of visitors.Then proceed with the main meals all have the right spice flavors. Roast duck or pork from either, with a crispy skin but the meat remains tender poured soy sauce is thick and very tasty. Similarly,chicken wrapped in a crispy flour sauce, fresh, sweet and sour on the tongue.Try delicious seafood in the form of a large lobster with a lot of meat and shellfish that are large as well. Both materials have been flavored and distinctive sauce China. Clams seafood is the most famous Nam Kee Oyster simple cooked by steaming with seasonings then served with soy sauce.Of course vegetable menu has always been the choice of visitors, such as sauteed mixed vegetables (Mix Vegetable with bean curd) that tasted almost the same as usual we meet at the high-quality Chinese restaurants in Jakarta.There is also a menu of fried rice that is sometimes chosen as a substitute for white rice. There are also noodle and vermicelli dishes are also a lot of visitors ordered. Visitors favorite beverage is none other than China tea is served with small bowls and pots typical of China. Tea can be enjoyed free of charge.Perfection of flavor in all foods to make visitors want to order all the food there. Therefore visitors are always willing to come back to the family restaurant was run by two generations.

 

The success of the traditional restaurants in the country this person should be an inspiration to Indonesia in the Dutch restaurant manager. Amsterdam is quite a lot of restaurants in Indonesia.Among them Puspita, Raden Mas, Heroine, and Kantjil en de Tijger. But apparently no one has been as popular as Nam Kee Restaurant. Though the market opportunity is quite large considering the many Dutch citizens who have a relationship with Indonesia.Surely the success of Nam Kee Restaurant is inseparable from the professional management and maintaining a sense of authenticity and atmosphere of a typical traditional Chinese restaurant.Owners know very well the desire and satisfaction, and continued to see the need for promotion factor though has become an icon of Amsterdam.May also luck factor comes from the location of the restaurant is right in front of the praying of the Buddhists in the tourist area of Amsterdam is very strategic. In 2011, Nam Kee Restaurant 30 years old and still offer special prices for visitors, as can be seen on his official website. Not impossible commented a visitor from Singapore named Lezah in 2004 is evident today, “Nam Kee is a Legend!” (Janine Helga Warokka)

 

Posted by rahasia wanita at 10:59 PM (translated

 

One thought on “Restoran Legendaris di Kawasan Prostitusi Amsterdam/Legendary restaurant in Amsterdam Prostitution Zone

  1. Halo Janine, apa khabar? baru tahu ada tulisan baru kamu ttg restauran di Amsterdam, sepertinya sewaktu dgn adik aku jalan2 tempo hari pernah lewat di depannya, tp tidak sempat mampir, setelah membaca tulisan kamu, jadi tertarik kepengin coba … lain kali, he-he-he. Soupe Wonton itu juga makanan fave aku ooo … salam manis dan great posting Janine!!! Bisous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s